Koneksi Antarmateri - Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik Oleh Isra Wamira, S.Pd CGP A.11

A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Hal yang perlu kita pahami dalam mempelajari modul 2.3 mengenai coaching untuk supervisi akademik adalah bahwa hubungan seorang kepala sekolah dan guru tidak hanya mengenai hubungan atasan dan bawahan, tetapi juga dapat dilakukan dalam bentuk kemitraan. Dengan hubungan seperti ini diharapkan dapat terbentuknya hubungan sosial dengan komunikasi yang terbuka antara kepala sekolah sebagai Coach dan guru sebagai Coachee, sehingga dengan hubungan ini diharapkan guru semakin kritis dan kreatif dalam berefleksi dan mencari solusi untuk berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pelayanan pembelajaran terhadap peserta didik.

Praktik coaching dalam supervisi akademik perlu memperhatikan prinsip-prinsip: Kemitraan, konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan, serta komprehensif.

Pelaksanaan supervisi melalui tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Dalam tahap pelaksanaan dapat dilakukan dengan pendekatan coaching berupa observasi. Tahap ini dikenal dengan supervisi klinis yaitu berupa pra observasi, observasi dan pasca observasi.

Tahap pra-observasi merupakan tahap percakapan yang membangun hubungan antara guru dan supervisor sebagai mitra dalam pengembangan kompetensi diri. Tahap observasi merupakan tahap dimana supervisor melakukan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran. Selanjutnya tahap pasca observasi merupakan tahap dimana supervisor dan guru menganalisis data, umpan balik dan rencana pengembangan kompetensi. Proses percakapan bersifat reflektif dan bertujuan untuk perbaikan kedepannya.

Dalam pelaksanaan coaching perlu mengikuti alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana dan Tanggung Jawab), serta perlu memperhatikan tiga kompetensi yaitu kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif dengan teknik RASA (Receive, Appreciate, Ask, Summarize), serta mengajukan pertanyaan berbobot.

Saya merasa tertarik dan antusias sekali selama mempelajari modul 2.3 tentang coaching untuk supervisi ini. Hal ini karena terkait langsung dengan profesi saya saat ini yang menjabat sebagai Kepala sekolah di salah satu SD Swasta. Selama mempelajari materi ini, hal yang sudah baik saya lakukan adalah ketika mempelajari secara mandiri dan beridiskusi melalui forum secara online sehingga lebih memahami prinsip dan kompetensi coaching itu sendiri. Apalagi ketika diberikan tugas untuk mempraktekkan coaching bersama rekan-rekan CGP. Hal ini menarik sekali bagi saya karena memberikan pengalaman yang bermakna bagi saya sebagai seorang pendidik.


Yang perlu saya perbaiki dalam pembelajaran ini adalah bagaimana saya mampu dan terlatih dalam memberikan pertanyaan berbobot sehingga dapat mengeksplorasi pemikiran, ide dan kreatifitas guru dengan lebih dalam lagi.

Mempelajari materi coaching ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan memberikan dampak terhadap kompetensi dan kematangan pribadi karena dengan mempelajari materi ini kita diajarkan bagaimana membangun hubungan kemitraan yang baik serta bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah dengan berbagai ide yang muncul dari Coachee itu sendiri. Sehingga dengan adanya coaching ini seorang guru menjadi terbiasa reflektif dan kreatif dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang tentunya dengan cara mengungkapkan kepada mitranya yaitu Coach.

B. Analisis implementasi dalam konteks CGP

Dalam sesi elaborasi pemahaman, hal yang saya tanyakan kepada instruktur adalah bagaimana praktik coaching itu sendiri, apakah terpisah dalam kegiatan supervisi atau menyatu? Instruktur waktu itu cukup baik dalam menjelaskan bahwa dalam kegiatan supervisi ada masa kita berperan sebagai coach dan ada masanya berperan sebagai supervisor. Sebagai coach dapat dilakukan pada saat pra-observasi maupun pada saat pasca observasi. Selama observasi berlangsung, kita berperan sebagai seorang supervisor. 

Tantangan yang saya rasakan dalam implementasi coaching ini adalah bagaimana menimbulkan kesadaran guru untuk mau melakukan coaching. Karena mengingat beberapa guru di sekolah saya ada yang sudah senior karena bekerja sudah berpuluh-puluh tahun yang tentunya mempengaruhi cara dia bersikap dengan guru lain bahkan dengan saya sebagai kepala sekolah. 

Namun untuk mengatasi hal tersebut, pertama yang akan saya lakukan adalah berbagi praktik baik kepada guru dengan memberikan pemahaman tentang apa itu coaching, prinsip serta kompetensi coaching itu sendiri. Dengan berbagi praktik  baik ini diharapkan guru dapat memahami manfaat dari coaching itu sendiri. Dengan kegiatan ini guru juga diharapkan memahami bahwa coaching tidak hanya bisa dilakukan oleh kepala sekolah tetapi bisa juga dilakukan oleh rekan sejawat. Seorang guru juga nantinya bisa melakukan coaching terhadap murid sehingga akan lebih dapat menggali kreatifitas murid dalam pemecahan masalah yang mereka hadapi.

C. Keterhubungan

Sebagai seorang Kepala Sekolah selama ini saya masih mempraktekkan supervisi dengan cara klasik yaitu memposisikan diri sebagai atasan yang mengamati guru sebagai bawahan dalam pelaksanaan pembelajaran. Kemudian memberikan ide dan masukan kepada guru agar pembelajaran kedepannya menjadi lebih baik lagi. 

Setelah mempelajari coaching ini, saya berniat mengaplikasikannya di sekolah. Dengan harapan guru menjadi lebih terbuka dan kreatif dalam pemecahan masalah yang mereka hadapi. Guru menjadi terbiasa untuk mengungkapkan permasalahan-permasalahan (terutama masalah di kelas) melalui refleksi diri baik dengan kepala sekolah maupun guru lainnya. Dengan solusi/ ide yang timbul dari diri sendiri guru akan berkomitmen untuk melaksanakan rencana tindak lanjut mereka, karena hal ini timbul dari ide dan pemikiran mereka sendiri. Sehingga melalui pembelajaran berdiferensiasi yang merupakan pembelajaran yang berpihak pada murid dapat dilaksanakan dengan baik dan efektif begitu juga dalam penerapan pembelajaran sosial emosional pada peserta didik.

Praktik baik yang telah dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari adalah bagaimana mengelola sosial dan emosional diri sebagai seorang guru sehingga menjadi contoh bagi murid untuk ikut dapat mengelola sosial dan emosional mereka. Selain itu modul terkait disiplin positif terutama segi tiga restitusi juga sudah mulai diterapkan di sekolah. Sehingga terciptanya iklim sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa untuk dapat menerima pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Diluar dari modul ajar yang telah dipelajari, yang jelas sebagai seorang guru kita perlu menguasai berbagai kompetensi guru yaitu kompetensi kepribadian, pedagogik, sosial dan profesional. Kegiatan coaching merupakan upaya bagaimana kita dapat meningkatkan kompetensi-kompetensi sebagai seorang guru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untungkah mendirikan PAUD?